Jumat, 02 Desember 2016

Contoh-Contoh Etika



1. Etika bersendawa dan cara makan
            Ibu saya berasal dari daerah Jawa dan ayah saya dari sumatra dan mereka akan menegur jika saya bersendawa dan mendengar saya makan bersuara (baik suara mulut ataupun suara alat-alat makan saat makan). Bagi orang tua saya dan daerah asal mereka suara sendawa itu sangat menjijikkan dan suara mulut saat makan itu seperti babi (saya pernah mempunyai babi dan memang saat babi makan suaranya seperti saat orang makan bersuara "cak cak cak cak") . Tetapi, ada di daerah lain suara sendawa bukanlah hal yang menjijikkan.
           Saya pernah bertanya kepada teman saya "kalau misalnya be doak lu marah ko sonde?". Jawab teman saya "tergantung doaknya, kalau doaknya besar be marah kalau biasa sonde apa-apa". (Di daerah orang tua saya mau sendawa kecil atau besar sama saja menjijikkan).  Saya tanya ke teman saya yang lain "Kalau misalnya be doak lu pu perasaan kermana?". Dia jawab "son kermana-kermana". Dan teman saya pernah minum air setelah itu dia bersendawa berulang kali, lalu saya bilang "be ju bisa". Setelah itu saya bersendawa. Lalu teman saya malah senang mendengarkan sendawa yang saya buat.





2. Etika izin keluar kelas atau ruangan
            Saya SD di pulau Batam, jika ingin izin keluar kelas siswa harus melapor diri pada guru yang mengajar. Dan saat saya melanjutkan sekolah di Kupang siswa hanya mengangkat tangan mereka lalu keluar kelas. Pada awalnya saya tertawa melihat hal itu dan saya kira dia agak miring. Ternyata setelah saya cari tahu, memang seperti itu cara disini. Tapi, saya tidak pernah berani untuk mencoba hal itu karena saya masih merasa itu tidak sopan.


3. Etika memuji dengan kata "LUCU atau FUNNY".
            Papa saya pernah bercerita kepada saya. Jika orang Indonesia dipuji anaknya "Anak kamu lucu (funny)". Pasti orang Indonesia itu senang banget. Dan papa saya pernah mencoba bilang ke orang barat (bule) "Your child is funny" eh si ayah anak itu marah.
          Jadi, bisa diambil kesimpulan kata lucu diIndonesia identik dengan imut, menggemaskan dan tidak jelek. Tetapi, lucu bagi orang barat identik dengan arti aneh, cacat dan tidak normal.
          Jadi, jika kita bilang ke bule "your child is funny", kira-kira hasil terjemahan mereka seperti ini "Anak kamu aneh atau tidak normal". Dan pasti itu mereka anggap bully.
4. Etika memberikan uang
            Cerita ini juga di ceritakan papa saya ke saya. Papa saya pernah bercerita, Papa pernah memberikan uang kepada anak orang bule dan anak itu tidak menerimanya , lalu anak itu melaporkannya ke bapaknya dan bapaknya marah ke papa saya  dan bertanya kenapa kamu kasih uang ke anak saya?. Jadi, memberi uang kesembarang orang dapat membuat seseorang marah atau tersinggung. Kecuali kalau orang itu meminta terlebih dahulu.
          Sedangkan kalau anak orang Indonesia dikasih uang rata-rata anak itu langsung caplok uangnya, apalagi kalau uangnya warnanya biru atau merah. Bapaknya juga pasti senang kalau anaknya diberi uang. Tapi mungkin ada orang Indonesia yang marah kalau anaknya di berikan uang tapi tidak semarah orang bule itu dan tidak sekritis orang itu. Tetapi, rata-rata anak Indonesia kalau di beri uang oleh orang lain langsung di caplok saja. Termasuk saya. Meskipun, papa saya selalu bilang ke anak-anaknya "jangan asal terima uang dari orang, kalau keluarga yang beri boleh di terima tapi kalau orang lain jangan diterima". Tetapi kami semua terkadang membandel. Apalagi uang yang di berikan oleh orang tebal, angka dan warnanya enak dipandang mata susah banget say no thanks.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar